Karya Eka Wahyuni
The Enchantment of Tari Gong (on progress)
Karya ini terus berjalan. Telah dan sedang melintasi beberapa stasiun sejak tahun 2016 hingga kini. Enchantment berarti pesona. Kata ini Eka pinjam dari istilah yang dipakai oleh Alfred Gell untuk menjelaskan pengalaman estetis berupa sensasi yang didapat dari teknik luar-keseharian (embodied-experience) pada orang yang mengalaminya, baik itu pelaku maupun penyaksi. Pertama kali dipresentasikan di Paradance #12 (2016) dengan fokus pada pengalaman dan peristiwa ketubuhan penari gong saat menarikan tari Gong menggunakan pendekatan fenomenologi. Presentasi kedua dilakukan secara mandiri di Studio Banjarmili tahun 2018 dengan fokus pada energi yang dialami oleh tidak hanya penari namun juga penata musik, lighting dan koreografernya saat pemanggungan Tari Gong. Presentasi ketiga dilakukan di Paradance #26 (2019) dengan fokus presentasi pada penelusuran sejarah Tari Gong di Kampung Merasa melalui metode triangulasi.
Ne.U.tral
Ne.U.tral, dipentaskan di Paradance #14 di Balai Budaya Minomartani, Sleman, yogyakarta pada 26 Februari 2017. Ne.U.tral merupakan karya eksploratif mengenai silat Bangkui. Silat Bangkui sendiri merupakan silat yang berasal dari suku Dayak, khususnya sub suku - suku Dayak yang bermukim di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, diantaranya adalah suku Dayak Ngaju. Dalam karya ini, koreografer menjelajahi bagaimana gerakan – gerakan silat tidak hanya menjadi dasar komposisi koreografis melainkan juga bagaimana penari memasuki makna yang lebih esensial : sikap

Ambang
Ambang (2020) merupakan karya dance film saya yang keempat. Diciptakan untuk merespon keadaan Covid-19 yang mewajibkan setiap orang untuk membatasi kegiatan dan melakukan karantina mandiri. Gagasan awal ide ini muncul atas tanggapan saya dan dua rekan saya (Azwar dan Putri) selama menjalani karantina mandiri dan pengalaman apa saja yang kami alami setelah-selama melakukannya terkait relasinya dengan tubuh dan ruang. Walaupun memang terasa ada yang berbeda, namun banyak hal - hal yang sebenarnya secara fisik maupun fisikal masih terasa sama. Hanya saja karena sedang berada di masa ambang, mistifikasi nalar dan realitas pun terbentuk. Dari situlah kemudian muncul pertanyaan, “apakah karantina berkepanjangan ini sebenarnya terasa berbeda, atau sama?”.

Sila klik tautan pada "CV & Portofolio" di atas untuk melihat CV dan Portofolio Eka Wahyuni
Features

Koreografi Pandemi dan Dilema Membingkai Tubuh ke dalam Layar
Dalam tulisan ini, Linda Mayasari melakukan refleksi atas Kuratorial IDF 2020 termasuk penulisannya tentang sketas gagasan yang dibuat oleh Eka Wahyuni mengenai cara kerja media video yang juga hampir sama dengan penelusurannya dalam sejarah tari Gong Suku Dayak Kenyah di Kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur.




