Ingatan yang Menggelitik
- Eka Wahyuni
- Dec 21, 2020
- 2 min read
Sebagai perantau dan penghuni asrama Kalimantan Timur di Yogyakarta, tawaran untuk menjadi penari di Enggang Melenggang di tahunn 2012 terdengar menggiurkan bagiku. Menjadi duta daerah yang bisa memperkenalkan kekayaan seni di daerahku melalui tarim itu kata temanku yang kemudian aku amini. walaupun pada saat itu aku tidak tau menau tentang tari tarian dari Kalimantan Timur dan aku juga bukan seorang penari, tai temanku menenangkanku dengan memperkenalkan salah satu mahasiswa tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang akan mengajariku dan teman-teman yang lain tentang tari tarian tersebut.
Selang beberapa waktu, kami pun bisa menarikan beberapa tarian seperti Untun Belanay, Jepin Kinsat Suara Siam, Tari Dayak, dan tari tari lainnya. Kami juga secara swadaya membuat kostum tari yang pernah dipentaskan dan belajar make-up sendiri. Undangan untuk pentas pun mulai berdatangan, dan undangan terbanyak kami dapatkan dari IKPMDI. IKPMDI ini adalah pusat dari IKPM-IKPM yang ada di Yogyakarta yang biasanya juga terhubung langsung dengan pemerintah Yogyakarta. Jadi program-program seni budaya yang membutuhkan perwakilan provinsi-provinsi Indonesia ini akan diteruskan ke IKPMDI, dan IKPMI kemudian akan menyebarkan ke asrama-asrama provinsi maupun daerah untuk ditindaklanjuti. Bagi asrama yang punya sanggar seni, sudah pasti akan diteruskan ke sanggar ini, dan salah satunya adalah Enggang Melenggang sebagai sanggar seni IKPM Kalimantan Timur.
Kami pentas di lapangan 0km, di hotel-hotel, di taman budaya, di balai pertemuan. Awalnya saya merasa senang, berdandan cantik dengan kostum yang gemerlap, menaiki panggung, disorot lampu, dan ketika turun panggung banyak yang mendekati saya untuk meminta foto bersama. Tapi lama lama saya menjadi kosong, karena saya hanya disuapi dengan gerak dan menghapalnya. Di lain sisi, setelah pentas saya hanya ditempatkan sebagai "teman fotonya" penonton tanpa membahas karya tari yang saya tarikan. Sebatas, "mbak boleh foto bareng gak?" - foto - "terima kasih ya mbak" - berpamitan. Pun, ketika saya pentas di acara pemerintahan, saya hanya diberi ruang berbagi di panggung, diantara gelak tawa, senyum tipis, sorot kamera, dan makanan yang sedang disantap. "Apakah mereka juga tertarik dengan tari-tarian ini?", pikir saya waktu itu. Dan bisa saja mereka tidak tau ini tarian apa selain gerakannya yang indah dan tampilan yang cantik. Tapi ya lucu juga sih, ketika kemudian jika ruang itu dihadirkan tapi saya juga tidak bisa membagikan apa selain gerakan-gerakan dari tarian yang saya pelajari karena itu yang selama ini saya terima.
Mengingat kembali pengalaman saya waktu itu, saya kemudian bertanya-tanya, sebenarnya saya ditempatkan sebagai apa oleh pemerintah, ikatan mahasiswa, Enggang Melenggang, teman saya, dan mungkin saya sendiri di panggung tari?


Comments