top of page

Gyoza Rumahan

  • Eka Wahyuni
  • Feb 22, 2021
  • 2 min read

Updated: Feb 24, 2021

Beberapa waktu ini, akhir minggu menjadi agenda ritual saya dan Ipey untuk memasak sesuatu dan setelahnya memakannya sambil nonton film di Netflix. Kebetulan karena habis imlek dan kami makan dimsum di rumah mbak Helly, saya kepengen banget masak gyoza. Dari dulu sebenarnya, cuma menguat setelah imlek kemarin. Akhirnya setelah riset daring singkat (dan sudah punya chopper juga), saya mencoba dengan bahan bahan ini :


Bahan kulit :

160ml air panas

220gr tepung terigu bogasari warna biru

garam secukupnya


Bahan isi :

150gr daging ayam

25gr kulit ayam

25gr udang

1/4 kol, potong kecil

Bawang putih

Daun bawang, potong kecil

Garam dan merica secukupnya

1 sdm kecap asin

1 sdt minyak wijen

minyak goreng dan minyak wijen untuk menggoreng

air untuk mengukus.


Bahan saus :

4sdm kecap asin

1 sdt minyak wijen

sedikit cuka

bubuk cabe, sesuai selera.


Cara membuat :

- Untuk kulit, campur air panas dengan garam. Aduk rata, kemudian perlahan masukkan ke tepung sambil uleni sampai kalis. Diamkan 30 menit. Kemudian cetak.

- Untuk isi, masukkan semua bahan ke dalam chopper (kecuali kol dan daun bawang). Setelah halus, masukkan kol dan daun bawang aduk rata. Masukkan ke dalam kulit. Bentuk seperti gyoza (atau kalau saya, sering kesusahan membentuknya, langsung bentuk bulat aja seperti bakso isi)

- panaskan wajan, tuang sedikit minyak. Masukkan gyoza, setelah itu masukkan minyak wijen secukupnya. Setelah cukup matang, tuang air kemudian tutup wajan. Biarkan sampai matang.

- Hidangkan dengan saus.


Ketika memakannya, saya merasa ada yang kurang. Entah kenapa kurang nendang rasanya. Mungkin selain karena kulitnya masih tebal (saya belum punya rolling pin, jadi pake gelas), saya juga jadi tersadar bahwa sepertinya gyoza ini kurang jahe, atau mungkin juga karena saya sudah terbiasa dengan rempah yang lebih banyak. Tapi sepertinya makanan Asia Timur, dari apa yang saya perhatikan, punya bahan andalan, dan salah satunya menurut saya adalah jahe dan wijen.


Eniwe, saya jadi bertanya tanya, apa dibalik cerita si gyoza ini. Apa ada kaitannya dengan daratan Cina karena di Jepang, Cina dan Korea mempunyai makanan khas dumpling? Akhirnya saya browsing beberapa artikel dan ternyata gyoza berasal dari Cina dengan nama Jiaozi. Konon karena dulu masyarakat daratan Cina yang kurang mampu mengalami kedinginan sampai sampai telinga mereka membeku dan pecah (rusak), akhirnya salah satu ahli pengobatan tradisional Cina (Zhang Zhongjing) di sana membuat masakan yang mampu menghangatkan tubuh dengan bentuk makana seperti daun telinga (Jiao). Bahan-bahannya itu daging kambing muda, merica dan obat-obatan tradisional yang dibungkus dengan lapisan tipis dan dibentuk seperti daun telinga. Resep ini diwarisi turun temurun sehingga menjadi makanan wajib saat tahun baru datang. Konon, Jiaozi menjadi Gyoza ketika Jepang menginvasi Cina pada perang dunia kedua. Para tentang Jepang membawa pulang resep ini ke negaranya dan memodifikasinya menjadi Gyoza seperti yang sekarang dikenal luas.


Ternyata ya memang saling mempengaruhi ya.


Hmm, berarti mungkin percobaan selanjutnya, saya bisa menambahkan jahe.

 
 
 

Recent Posts

See All
Helatari 2021

Tahun 2021 ini adalah kali kedua aku mendaftar di perhelatan tahunan Salihara--Helatari. Sayangnya aku tidak menyimpan (atau lupa...

 
 
 
Pertanyaan yang tak henti...

Sepertinya banyak yang membahas tentang apa itu tari kontemporer, tapi sedikit yang membahas dari mana datangnya terma tersebut dan kapan...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2018 by Portaleka. Proudly created with Wix.com

  • Instagram
bottom of page