top of page

Helatari 2021

  • portalekaid
  • Oct 10, 2021
  • 3 min read

Tahun 2021 ini adalah kali kedua aku mendaftar di perhelatan tahunan Salihara--Helatari. Sayangnya aku tidak menyimpan (atau lupa menyimpan) formulir pendaftaran di upaya pertamaku beberapa tahun lalu jadi aku tidak bisa menyertakan formulir tersebut di postingan ini.


Dalam proses pendaftaran kali ini aku sudah banyak sekali belajar mengenai ruang festival dan akhirnya sangat memikirkan penawaranku dalam program ini. Karenanya, aku membutuhkan teman ngobrol agar gagasanku lebih jelas. Aku menargetkan dua teman ngobrol, Azwar dan mbak Linda. Dua orang ini sudah berproses bersamaku di Indonesian Dance Festival tahun lalu sehingga rasanya pas menjadi teman ngobrolku. Mbak Linda adalah kuratorku yang menurutku punya kapabilitas untuk mengurai benang kusut yang aku bawa, dan Azwar adalah praktisi yang berkecimpung di dunia media digital. Selain itu mereka juga pernah mendampingi berproses dalam penciptaan karyaku sebelumnya di IDF 2021 sehingga rasanya kami akan berada di jalan yang sama.


Pertemuan perdanaku dengan mereka berdua menghasilkan beberapa kata kunci penting terutama yang berhubungan dengan tatapan, perspektif dan media digital. Dari obrolan ini aku kemudian mengolahnya menjadi satu proposal project yang aku tawarkan di Helatari. Beruntung dalam pendaftaran Helatari ini, aku tidak harus menjawab pertanyaan lain. Aku hanya perlu menyiapkan CV dan proyeksi karya ke depan sehingga aku bisa fokus pada proyeksi gagasan karyaku.


Proses pengisian proyeksi karyaku dalam formulir sebenarnya susah-susah gampang karena ada batasan kata. Namun sebenarnya juga jumlah kata yang diberikan oleh pihak Salihara juga cukup untuk menjelaskan semuanya dengan efektif. Beberapa kata kunci juga sudah diberikan di penjelasan program ini, bahwa setiap pelamar harus mempertimbangkan alih wahana karena program ini akan dipentaskan secara daring. Jadi ini adalah kata kunci awal sebenarnya yang sudah disediakan oleh Salihara sendiri untuk dikaitkan ke dalam gagasan karya. Jadinya seperti apa? silahkan dibaca ya :


Pesona adalah seri lanjutan dari karya berjalan saya dan tim, The Enchantment of Tari Gong. Mulanya, karya ini berangkat dari temuan kami ketika tengah menjelajahi gagasan untuk trajectory KAMPANA IDF 2020. Kami menonton video Awe, penari Dayak Kenyah, yang sedang menarikan Tari Gong di rumah panjang di Kampung Merasa dengan latar belakang lukisan laki-laki yang sedang duduk di atas gong dan menatap ke depan seolah-olah sedang menatap Awe. Awe sendiri, yang sedang menarikan Tari Gong, menggerakkan tubuhnya sesuai dengan koreografi Tari Gong. Menari di atas gong dengan tempo lambat, tubuh memutar 360 derajat, dan panggul sebagai tubuh dominan yang terlihat dalam tari.
Kami, yang juga dipantik oleh kurator saat itu, menangkap kesan erotika pada video tersebut. Erotika di dalam konteks ini bukan terkait dengan sensualitas semata, tetapi erotika yang hadir dari bingkaian perspektif kamera yang merekam tarian tersebut. Erotika ini kemudian kami jelajahi dengan pendekatan gender kontemporer dan meminjam nalar Laura Mulvey mengenai male gaze dari sisi kamera dan to-be-looked-at-ness dari sisi penampil/penari yang ia tawarkan pada Visual Pleasure and Narrative Cinema. Kami memulainya dari penelusuran tentang bagaimana kesan erotika itu muncul, dan melalui apa kesan itu ditangkap. Kami menyadari bahwa tangkapan-tangkapan ini hadir karena daya tarik (pesona) yang muncul bukan semata dari tarian tersebut, tetapi juga dari perspektif “yang menatap”, terutama dalam kaitannya dengan konsepsi dominan tentang “keindahan” tubuh dan gerak perempuan. Pesona ini hadir karena adanya tatapan dari kami sebagai penonton, sehingga komponen tatapan ini kami anggap penting untuk dibongkar pesonanya melalui pertanyaan awal, “Tari Gong mempesona dari tatapan yang bagaimana?” dengan menelusuri kembali tatapan kami, tatapan pariwisata, serta wacana kolonial dengan menggunakan data-data yang sudah kami punya.
Selain itu dalam penelusuran pesona (erotika) Tari Gong, kami juga akan menggunakan kamera sebagai alat eksperimentasi dan bahasa artistik kami. Eksperimentasi ini akan bekerja pertama-tama dengan cara mengkoreografi tatapan, atau mengkoreografi bentuk melalui koreografi tatapan. Tari Gong, di mana posisi penonton selalu berada di bagian depan, kami pindah sudut pandangnya menggunakan kamera. Ketika kamera berpindah, maka bentuknya pun berubah. Sehingga yang akan kami koreografikan di sini adalah tatapan, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana pesona itu dibentuk. Dalam proses penciptaan nanti, kami akan ulang-alik antara riset dan kerja studio. Untuk mendukung proses penciptaan, kami juga akan menggunakan kacamata Marlene Dumas untuk membantu kami dalam mengkoreografi tatapan. Penonton yang biasanya menonton dari depan, akan kami ubah tatapannya. Artinya, dengan menggunakan kacamata Dumas, kamera akan digeser tapi masih dengan objek yang sama.


 
 
 

Recent Posts

See All
Pertanyaan yang tak henti...

Sepertinya banyak yang membahas tentang apa itu tari kontemporer, tapi sedikit yang membahas dari mana datangnya terma tersebut dan kapan...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2018 by Portaleka. Proudly created with Wix.com

  • Instagram
bottom of page